Cerita Panas

ChikaStory – My Lust Life – Cerita Pendek

Brummm Brummm … Pagi ini aku harus bangun lebih cepat dari biasanya. Kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal di Kampus, so kakakku minta tolong agar aku mau jadi tukang ojeknya sehari full. Hmmm, yaa okelah, sebagai adik yang baik aku nurut aja, hehehe.

“Udah dek?”, tanya Kak Chika sambil membawa tas ransel yang entah apa isinya, “Ntar kak, panasin motor dulu”, jawabku. Hmmm, pagi ini Kak Chika terlihat begitu manis, dengan rambut sebahu yang sedikit mengkilap dengan wajah yang berseri. “Kenapa dek? Kok ngeliatin kakak kyk gitu?”, tanya Kak Chika yang membuyarkan lamunanku, “Gak ada kak”, jawabku yang kemudian menoleh ke arah speedometer dan juga indikator BBM.

“Oke kak, jalan sekarang yuk”, kataku. Kamipun berpamitan kepada orang tua lalu memulai perjalanan panjang Bandung – Jakarta. Esok Kak Chika harus kuliah sedangkan hari ini ia menerima tawaran job photo. Ya, akhir-akhir ini ia banyak tawaran job untuk menjadi seorang model foto dan entah mengapa, semakin lama pose-pose yang ia tampilkan makin seksi. Aku sebagai adiknya sebenarnya agak risih tapi itu hak dia.

Oh iya, aku jadi ingat, semenjak kejadian mimpi anehku tentang Kak Chika, aku jadi memendam sedikit perasaan ama dia. Jujur aja deh, aku sedikit bernafsu dengan kakakku sendiri, yaaa walaupun selama ini dapat kutahan, karena aku gak mau berbuat macam-macam apalagi merusak masa depan kakakku sendiri.

Baca Juga: Aku Di Nodai Tanteku Yang Lagi Sange

“Dek agak ngebut donk”, kata Kak Chika yang lagi-lagi memecah lamunanku sejak tadi, “Hmmmm, okee”, ngeeeenggggg, “Dek ngebut banget”, kata Kak Chika yang kemudian memelukku dengan erat dari belakang. Ohhh shiiit, otomatis susu Kak Chika menyentuh punggungku. Tonjolan empuk dadanya seakan-akan memijit punggungku dengan lembut, dan sebagai lelaki normal, tentu saja hal itu membuat “senjataku berangsur-angsur berdiri”. Ahhh ya udah deh, untung saja aku mengenakan celana dalam yang agak ketat, so, walaupun agak menyakitkan tapi paling nggak Kak Chika gak tau kalo “punyaku” lagi berdiri.

Sepanjang perjalanan Kak Chika hanya berdiam diri, namun pelukannya tak kunjung kendor, entah apakah karena kecepatanku yang juga tak kunjung menurun, ataukah ia menikmati memelukku? Ahhh otakku mulai kacau. “Kaaak, fotonya di daerah mana?”, tanyaku kepada Kak Chika sambil menoleh ke belakang, “Ke daerah ancol dek, ntar ada Villa di sekitar situ, ntar deh kakak kasi tau”, jawab Kak Chika.

Perjalanan terus berlanjut, entah berapa jam aku mengendarai motor, Kak Chika menuntunku hingga akhirnya kamipun tiba di sebuah Villa dengan pintu gerbang besar yang hanya terbuka sedikit. Akupun langsung masuk ke dalam, kemudian memarkirkan motorku dan melihat ada sekitar 5 orang cowok dan seorang cewek yang kesemuanya memegang kamera. Kami pun bersalaman terlebih dahulu dan kemudian si cewek tadi menunjukkan jalan menuju kamar ganti. Aku mengikuti mereka dari belakang, “Okee, di sini kamar gantinya”, kata cewek tadi. Kak Chika pun mengangguk sambil tersenyum ke arahnya, “Dek ikut kakak masuk ya”, kata Kak Chika. Kreeeekkk, pintu ditutup kemudian dikunci oleh Kak Chika. Awalnya aku hanya biasa saja karena hal seperti ini sudah sangat sering terjadi baik di Apartment kak Chika maupun di rumah.

Deg deg deg, entah mengapa tiba-tiba jantungku berdegub begitu kencang ketika kak Chika mulai membuka bajunya. Yang terlihat hanyalah punggung mulus serta tali BH yang melingkar menutupi sedikit kemulusan punggungnya. “Ohhh Shiiiit”, gumamku dalam hati ketika Kak Chika memelorotkan celana jeans yang ia kenakan, Wowwwww, mataku makin terbelalak, jantungku makin berdegub kencang dan entah berapa kali aku menelan ludah ketika mengetahui ternyata celana dalam yang dikenakan kak Chika adalah model G-String yang hanya menutupi bagian tengah sela-sela pantatnya.

“Dek, kalo kakak fotoan kyk gini, boleh gak?”, tanya Kak Chika sambil memamerkan bokong indahnya di hadapanku. Aku coba sedikit jaim, “Terserah kakak”, jawabku, “Sebenarnya udah lama kakak dapet tawaran foto kyk gini, cuma kakak belum kasi keputusan”, kata Kak Chika. Secara manusiawi, sebagai adiknya sudah tentu aku akan menolaknya, namun entah mengapa, hari ini perasaanku agak sedikit aneh, aku merasa ada sebuah sensasi tersendiri ketika Kak Chika mengenakan pakaian seminim itu di hadapan banyak lelaki, ingin rasanya aku memamerkan tubuh indah kakakku. “Ya udah, kalo bayarannya cocok kenapa gak dicoba aja”, jawabku kembali.

Akhirnya kak Chika pun mengambil celana renang sporty dan ketat, ia menunduk sebelum memakai celana itu. Ohhh My …. Dan lagi-lagi, sebuah pemandangan yang sangat indah terpampang jelas di hadapanku, bokong kak Chika yang hanya tertutupi oleh celana dalam model G-String itu benar-benar membuat “adik kecilku” berontak. Tanpa sadar aku mengelus-elus “barang” pribadiku sendiri. Oh shit, sensasi apa ini, rasanya begitu nikmat, “Yuk dek”, ajak kak Chika ketika ia sudah mengenakan pakaian renang sporty non bikini.

Kami pun berjalan menuju kolam renang dan di sana berbagai peralatan fotografi sudah terpasang, mulai dari kamera, lighting hingga peralatan-peralatan kecil lainnya.

Hmmm … cekrek cekrek cekrek, waktu terus berlalu, beberapa pose telah diambil, mulai dari bibir kolam renang hingga di dalam air. “Chika, bagaimana tentang tawaran kami?”, tanya salah seorang fotografer yang aku tidak tau namanya, “Coba tanya ama adikku deh”, kata Kak Chika. Aku sempat terkejut ketika ia berkata demikian, karena biasanya ia mengambil keputusan seorang diri, tapi mengapa untuk hal seperti ini diserahkan padaku?

3 Orang fotografer berjalan ke arahku, mereka seolah-olah ingin meyakinkanku bahwa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang mengatasnamakan seni dan fotografi. Awalnya aku agak ragu mengiyakan, masak mereka akan menikmati keseksian kakakku. Tapi akal sehatku tiba-tiba hilang ketika aku menoleh ke arah Kak Chika yang sedang duduk menekuk lutut sambil menatap ke arah langit. Wajah cantiknya dan paha mulus yang begitu seksi kembali membangkitkan pikiran liarku. “Boleh deh”, jawaban dariku yang disambut dengan rasa gembira oleh para fotografer tadi. Jantungku kembali berdegub kencang, aku menjadi tak sabar melihat para fotografer itu menikmati tubuh kakakku.

Kulihat kak Chika berdiri dan berjalan mendekatiku, “Kamu yakin dek?”, tanya Kak Chika, “Kalo bayarannya cocok ya udah gpp kak”, jawabku berusaha untuk menampilkan sisi bijak. Padahal saat ini yang ada dalam pikiranku hanyalah nafsu. Kak Chika pun berlalu pergi, menuju sebuah kursi di pinggir kolam. Aku harap-harap cemas dan terus memperhatikannya, hingga, ahhhh shiiiittt … Hal itu terjadi …

Kulihat Kak Chika membuka bajunya dan kemudian memelorotkan celana yang ia kenakan. Prosesi itu benar-benar kunikmati dan kulihat kelima fotografer tadi terbelalak sambil memandang bokong Chika yang benar-benar seksi dan mulus. Aku tau apa isi pikiran mereka berlima ketika melihat bokong Kak Chika hanya ditutupi kain G String yang begitu tipis. Hmmm, untung saja aku membawa kacamata hitam yang kukaitkan di kerah bajuku. Kukenakan kacamata itu dan akupun tiduran di kursi dimana kak Chika meletakkan pakaian dan celananya. Aku ingin leluasa melihat keindahan tubuh Kak Chika tanpa harus ada orang yang mengetahuinya.

“Okee pause, okeee seeep, 1 … 2 … Yakkk ganti pose”, Pengalaman kak Chika dalam dunia foto model membuat para fotografer tak banyak perintah. Tubuh Kak Chika meliuk-liuk berpose sungguh seksi. Sementara itu pandanganku fokus ke arah mata para fotografer yang berkali-kali terlihat menelan ludah sambil membenarkan posisi kontol mereka. Ya, aku tau mereka semua pasti ngaceng melihat toket kak Chika, melihat selangkangan lembutnya serta bokong mulusnya. Akupun menyilangkan kakiku, ingin memanjakan “adik kecil” ku yang sejak tadi sudah berontak. Makin lama kelima fotografer itu semakin mendekat, mereka seolah-olah mengerubungi kak Chika. Aku membayangkan mereka berlima sedang ngocok di depan tubuh mungil Kak Chika.

Hmmmm … waktu pun berlalu, entah berapa lama aku begitu tersiksa. Rasanya aku benar-benar ingin ngocok, tapi tak mungkin kulakukan, hingga akhirnya, “Dek, yuk pulang”, kata Kak Chika yang sudah mengenakan pakaian lengkap.

“Makasi Chika, kapan-kapan kita konsepin yang lebih berani ya”, kata salah seorang fotografer sambil mengedipkan mata ke arah kak Chika. Hmmm … kedipan itu seolah-olah memperkosa tubuh Kak Chika.

PUKUL 9 LEWAT 20 MALAM

TING TONG, bunyi bel lift sesaat sebelum pintunya terbuka. Kami pun melangkah keluar dari lift dan masuk ke kamar kak Chika. Setelah makan malam yang singkat tadi, tubuh kami benar-benar terasa capeknya. Kak Chika melempar tas ransel berisi pakaiannya ke sofa. Aku yang sudah benar-benar “tersiksa” sejak tadi benar-benar tidak dapat sabar untuk melepas hasrat yang sudah terpendam. Akupun masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan kran bathup dan mengisinya dengan air hangat. Aku membasahi kontolku kemudian kuambil sabun cair yang terletak di wastafel dekatku dan kuusap.

“Ahhhhhhh”, ohh rasa nikmatnya mendesir dan menjalar seketika saat aku mulai mengocok kontolku sambil membayangkan tubuh kak Chika sedang digerayangi oleh para fotografer bejat tadi. Ohhh yessss, entah mengapa bayangan tubuh seksi kak Chika saat mengenakan G-String tadi benar-benar merasuki pikiranku, membuat kocokanku makin cepat. Ahhhhh kenikmatan yang begitu bertubi-tubi menyerang tubuhku seketika.

“Deeekkk”, oh shiiit, Kak Chika memanggilku, “Yaa kaak?”, tanyaku, “Masih lama ya?”, tanya Kak Chika kembali, “Iyaa kaak, aku berendem”, jawabku mencoba membohonginya. “Dek bukain pintunya, kakak mau pipis”, kata Kak Chika.

Dulu Kak Chika memang beberapa kali bugil di depanku, tapi saat itu aku tidak menyimpan perasaan apapun padanya. Dan kini … “Deeek, cepetan, mau keluar nih”, kata Kak Chika kembali, hmmm … akupun membuka kunci kamar mandi kemudian berlari dan masuk ke dalam bathup, “Udaaaaaah”, teriakku.

Kreeeekkk, pintu pun dibuka, kulihat Kak Chika mengenakan celana short legging tipis dan kemudian menoleh ke arahku, “Dek tutup tirainya”, pinta Kak Chika. Rupanya ia malu kepadaku. Akupun menutup tirai bathup.

Srrkkk srrrkkk, hmmmm … kebetulan nih, di saat aku membutuhkan kepuasan, tiba-tiba saja kak Chika menyerahkan dirinya. Kusingkap tirai bathup sedikit, aku ingin mengintip ke arah kak Chika. Dan benar saja, ohhhhh, aku mempercepat kocokan pada kontolku saat pemandangan indah itu kembali terpampang di hadapanku. Kak Chika melepas celananya, dan pantatnya yang tidak tertutup apapun terlihat dengan jelas. Ia pun menggantung celananya pada gantungan baju yang ada di dekatnya dan kemudian mulai jongkok.

Srrrrrrrr… air kencing yang mengguyur deras terdengar keluar dari memeknya. Oh My Goodness, pemandangan indah yang benar-benar membuatku gila … Ahhhhhh, ahhhhhh, ahhhhhh, tiba-tiba Chika menoleh kearahku, mata kami bertemu, sreeekkk, dengan sigap kututup tiraiku, Oh shiiit, ia melihatku, ohh nooo… kuhentikan kocokanku. Jantungku benar-benar berdegup kencang, Ohh tidaak, apakah ia mengetahui bahwa aku mengintipnya? Huhhhh… “Deeek, cepetan mandinya, kakak mau mandi nih”, kata Kak Chika.

Hmmmm, one … two … sreeekkkk, kuberanikan diri membuka tirai bathupku, aku berpura-pura bahwa aku biasa saja melihatnya. “Aku mau berendem kak, masih lama nih”, jawabku sambil menatap matanya. Rupanya ia sudah mengenakan celananya kembali. “Ihhh jangan lama-lama atuh, masak mau mandi barengan”, kata Kak Chika kembali. Dalam hatiku mengatakan semoga saja ia mau mandi bareng denganku, tapi pikiran normalku berkata “Ia kakak kandungmu, jangan macem-macem”. Huhhhh.

PUKUL 10 LEWAT 28 MALAM

Kreeeeekkk, pintu kamar mandi pun dibuka, kulihat Kak Chika sudah mengenakan tanktop tipis pendek dengan celana short legging tipis. Di atas kepalanya terdapat lilitan handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya. Aku menoleh sebentar dan kemudian kembali fokus pada layar smartphoneku. Kak Chika bercermin sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk. Shit shit shit, berkali-kali aku mengumpat, padahal tadi “adik kecilku” hampir bisa aku jinakkan, dan kini kembali berontak saat kulihat puting susu kak Chika tercetak jelas dari luar tanktop yang ia kenakan. Rupanya kak Chika tidak memakai BH dan … Awwwww … aku kembali terkejut saat melihat bokongnya. Kak Chika juga tak mengenakan celana dalam. Hmmmm, okee, Fix malam ini aku tidak akan bisa tidur nyenyak.

Kriiik kriiik kriiiik …

Mataku tetap terjaga walaupun sudah dini hari. Bukan karena tidak ngantuk, tapi sedari tadi “adik kecil” ku benar-benar berdiri tegak dan berontak ingin segera dipuaskan. Aku berpikir keras agar dapat mengalihkan pikiran kotorku, namun apa daya, sedikit saja kumenoleh ke arah Kak Chika, nafsuku kembali memuncak, dan ini tidak bisa dibiarkan, karena makin lama makin menyiksaku.

Ahhh bodoamat, akupun memberanikan diri, kupelorotkan celana kolor yang kukenakan, ahhhh lega rasanya ketika kontolku bisa berdiri dengan bebas. Akupun berdiri, kemudian melangkah dengan pelan menuju meja rias kak Chika. Mengambil sedikit handbody miliknya dan kemudian kuusap kembali ke kontolku. Setelah itu aku kembali tiduran di samping kak Chika sambil mengocok kontolku dengan perlahan.

Kebetulan lampu kamar Kak Chika lupa dimatikan, sehingga aku bisa dengan jelas melihat keindahan tubuhnya. Hmmm okelah, cukup gini aja, ahhhhhh, betapa nikmatnya ngocok di dekat obyek seksualku. Ohhhhh shittt, ahhhhh, tanpa sadar aku meremas-remas bokong Kak Chika yang begitu empuk. Kupercepat kocokanku sambil mengelus-elus pantatnya.

Makin lama nafsuku makin memuncak, kenikmatan yang tiada tara terus hadir dalam selangkanganku. Huhhhhh, aku menghela nafas panjang mengatur detak jantungku yang berdegub kencang. Ahhh ini tak biasa dibiarkan, kesempatan tidak datang dua kali. Akhirnya dengan perlahan kuraih bagian kolor legging kakakku. Kupelorotkan sedikit demi sedikit, srreeeekk, srreeekkk, begitu perlahan, begitu penuh kesabaran, begitu hati-hati hingga akhirnya entah berapa lama aku berusaha, namun kini celananya sudah terbuka dan berada di bawah pahanya sehingga pantat indahnya dapat kulihat dari jarak dekat.

Karena penasaran, kudekatkan wajahku ke pantatnya, kucium bokongnya yang mulus, kucoba menjilati sela-sela pantatnya. Rasanya cukup aneh, tapi malah meningkatkan libidoku. Kucium aroma memeknya yang begitu khas. Posisi tidur kak Chika yang menyamping dengan kaki bertekuk memeluk guling membuatku leluasa melihat memeknya dari belakang. Terus kuhirup aroma memeknya dan sesekali kujilat dengan perlahan dan lembut.

Tanganku terus memainkan kontol yang sudah ngaceng sejak tadi. Ahhhhhh, ahhhhh, makin lama kenikmatan makin memuncak. Nikmatnya ngocok sambil melihat keindahan tubuh kak Chika. Kocokanku makin cepat dan makin keras, sementara itu aku terus mengirup aroma memeknya yang khas. Ahhhhhhh, rupanya kenikmatanku hampir mencapai puncak. Detik-detik klimaks pun tak tertahankan. Pikiran liarku kembali bergelanyut, aku ingin merasakan sensasi yang berbeda. Ahhhhhh shiiit, nikmat banget, ahhhhhh, kuarahkan kontolku ke sela-sela pantatnya hingga menyentuh memek Kak Chika, kugesek-gesek.

Ahhhh Shiiiit, ahhhhhh, ohhhhhh, aku bisa merasakan memeknya yang lembut, ahhhhh, kak Chika, ahhhhh, “Dek kamu ngapain?”, secara tiba-tiba kak Chika menoleh ke arahku, ia tampak kebingungan melihat apa yang kulakukan, tapi apa daya, nafsu sudah di ubun-ubun, libido yang sudah memuncak, dan detik-detik klimaks pun sudah tiba.. “Ahhhh Kaaak, maaf, ahhhhh”, crooot crooot crooot, pejuku pun tumpah mengenai memek Kak Chika, membasahi kasur dan guling yang ia kenakan, Ahhhhhh, aku terus menggesek-gesekkan kontolku di sela-sela memeknya sambil menikmati keluarnya sisa-sisa cairan kenikmatan dari kontolku. Srrrrrr …. Ahhhhhh, hmmmm, akupun menghela nafas panjang, sesaat setelah puncak kenikmatan berhasil kuraih.

Kak Chika menendang gulingnya hingga terlempar ke bawah kasur, kemudian ia berdiri dan mengenakan celananya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Sumpah, jantungku benar-benar terasa akan berhenti. Aku benar-benar takut, tapi nasi sudah menjadi bubur, aku harus mempersiapkan tubuhku untuk dihajar oleh Kak Chika. Kutunggu dengan cemas ia keluar dari kamar mandi. Kubersihkan kontolku dengan tissue lalu kukenakan celanaku.

Kreeeeekkk, pintu kamar mandi pun dibuka. Kak Chika keluar dari kamar mandi, sempat menoleh dan menatap tajam mataku hingga membuatku menoleh melihat ke arah lain. Aku tau apa yang akan terjadi. Kak Chika mematikan lampu kemudian rebahan di sampingku, dan tetap menatap tajam ke arahku. Walaupun gelap namun terlihat jelas matanya masih menatapku.

Deg deg deg, jantungku benar-benar mau copot, “Eee… ma .. maa .. maaf kak, maafin aku”, kataku dengan terbata-bata, begitu takut, tapi aku sudah siap dengan apapun yang akan terjadi. “Ssstttt .. udah malem, bobo’ gih”, kata Kak Chika kemudian memlukku.

Wait, aku benar-benar bingung, aku benar-benar …. Ahhh tak tau, aku tak bisa mengungkapkan apapun.. Mengapa Kak Chika gak marah? Hmmmmm …. aku kembali menghela nafas dan mulai memejamkan mataku. Tapi otakku tetap berpikir keras, bertanya-tanya dalam hati, apakah Kak Chika menikmatinya? Mengapa ia tak marah kepadaku?

Ahhh, sudahlah, waktunya tidur, selamat malam,

Related Post