cerita panas

Nyodok Gadis Wajah China

Status sebagai mahasiswa rantau, membuat segala aktifitasku tidak terbatas, sangat bebas dalam segala acara, diantaranya bermuatan negative, pengalam ini terjadi saat bulan Maret 2015 dimana saat itu cuaca sedang hujan. Kesempatan ini aku manfaatkan untuk cari udara yang segar karena jarang jarang Surabaya di curahi hujan.

Aku keluar dengan menggunakan bis angkot, karena memang aku tidak di pegangi kendaraan oleh orang tuaku, aku keluar ketempat yang belum aku datangi sebelumnya, saat itu aku berfikiran untuk ke Galaxi Mall dimana temoat tersebut katanya banyak wanita keturuna Chinese yang sering berkunjung ke Mall Tersebut.

Mataku tertuju pada wanita yang berada di lantai atas, dia sedang makan sendirian, dengan body yang sangat seksi dan cantik itu aku beranikan untuk menghampiri gadis tersebut, karena dia sendirian langsung saja aku naik lift untuk menuju ke tempat gadis cantik itu berada, dengan teknik yang aku kuasai aku ajak wanita itu berkenalan, setelah memang ada respon dari wanita itu , dia menawariku untuk makan bersama , aku bilang aku sudanh kenyang, di bernama Putri, dari wajah kita seumuran tapi ternyata Putri lebih tua dari aku dua tahun, setelah lama kita mengobrol dia mengajaku untuk pulang bersama, karena aku mengaku aku kesini naik angkot, dengan senang hati aku ikut berdua dengan Putri seperti yang di kutip agen poker.

Akhirnya, aku pun setuju, dan segera berangkat bersamanya. Di dalam mobil, aku tak bisa tenang karena ketika menyetir, aku bisa melihat dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit menguasai kemudi. Tapi dia tidak menyadari itu, karena aku tahu dia tidak akan suka. Hal itu kusadari dari pembicaraan sebelumnya. Dia kelihatannya gadis baikbaik. Tapi konsentrasiku sangat terganggu apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada indah yang bersembunyi di balik bajunya bergoyanggoyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang sangat merangsang. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku.

Baca Juga: Sepongan Cewek Kampus

Aku pindah ke belakang ya.. kataku.

Kenapa?

Aku ngantuk, mau tiduran, nanti turunkan aku di jalan Kertajaya, kataku berpurapura.

Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku.

Ok, tapi kamu jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya susah, katanya polos.

Di kala otakku sudah kesetanan, tibatiba

Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu, ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak di Medan dulu.

Don apaapaan nihh..? teriaknya gugup, karena terkejut seperti yang di kutip agen poker online.

Aku peringatkan, diam, jangan macammacam! bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat.

Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu.

Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke daerah Petemon cepat..!

Ehh.. iiya.. iyahh jawabnya dengan sangat ketakutan.

Tas yang tadi diletakkan di jok belakang segera kubuka. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku.

Bawa ke Pinang Inn cepat! bentakku lagi.

Kali ini aku sudah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani.

Jangan mencoba membuat gerakan macammacam atau kamu kulempar ke jalan mengerti? ancamku lagi sambil berganti posisi.

Aku mengambil alih kemudi. Entahlah, saat itu aku merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menarinari di otakku. Dia hanya membisu, dengan tubuh gemetar menahan rasa takut. Tibatiba HPnya berbunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan sampai pecah.

Ingat jangan bertindak anehaneh kalau masih ingin hidup pesanku sesampainya di parkiran Pinang Inn.

Mobil langsung masuk garasi, dan aku menghubungi Front Officer. Kubayar, lalu kembali ke garasi.

Keluar!

Dengan wajar kugandeng dia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh dia telentang di kasur yang empuk yang di muat ahen poker online terpercaya. Kunyalakan TV channel yang memutar filmfilm biru. Pinang Inn memang disediakan untuk bermesum ria. Dia kelihatan semakin ketakutan, ketika melihatku langsung membuka baju dan celana. Dengan hanya menggunakan CD, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesekgesek di sekitar dadanya.

Agar proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan bertingkah.. atau besok mayatmu sudah ditemukan di laut sana paham?

Don.. ke.. ke napaa.. jadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku? dengan ketakutan dia berusaha membuatku luluh.

Salahmu adalah kamu memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar

Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari bagian luar sampai dalamnya. Kini dia telanjang bulat di antara serpihan pakaian mahal yang kusayatsayat. Dia menagis, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan air mata yang mulai mengalir deras ditingkahi isaknya yang sesenggukan. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku. Dada putih mulus yang montok, tubuh langsing, dan ups liang kemaluannya yang merah muda bersembunyi malumalu di antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya.

Jangann Don kumohon jangan pintanya memelas. Aku sudah tidak peduli.

Hei Puttt bisa diam nggak? Mau mati? Hah? ancamku sambil menampar pipinya. Wajahnya sampai terlempar karena aku menamparnya cukup keras.

Silakan menjerit ini ruangan kedap suara ayo menjeritlah, ejekku kesenangan.

Segera kulebarkan pahanya, kuelus permukaan kemaluannya dengan lembut dan berirama. Sesekali dia menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya yang tipis. Aku terus mengelus kemaluan itu, sambil dua jariku yang menganggur mempermainkan puting susunya bergantian. Dia hanya bisa mendesah dan menangis. Kudekatkan wajahku ke sela paha mulusnya. Dengan perasaan, kukuak liang kemaluannya, indah sekali. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kemaluan gadis seindah itu. Bentuknya agak membukit mungil, ditumbuhi bulu yang halus dan lemas. Bibir kemaluannya kupegang, kemudian lidahku kujulurkan memasuki lubang yang nikmat itu. Kujilati dengan perlahan, mengitari seluruh permukaannya.

Shhh Don Donhh.. jangaaann sshh Putri sampai terduduk.

Ada sesuatu yang lucu. Dalam situasi itu sempatsempatnya dia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku sesekali. Dalam hati aku tertawa, Dasar gadis munafik.

Ayo Puttt ayo kataku pelan mengharap cairan itu segera keluar membasahi kemaluan indahnya. Saat itu kesadaranku perlahan hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, namun tetap tegas agar Putri tidak bertindak ceroboh.

Kali ini lidahku mengaitngait klitorisnya beraturan namun dengan arah lidah acak. Dia makin bergetar. Goyangan pinggulnya terasa sekali.

Lho diperkosa kok malah enjoy ayo.. nangis lagi mana? olokku.

Don jangannhh.. janganh balasnya malumalu, berusaha menggeser kepalaku dari selangkangannya. Tapi setelah kepalaku digerakkan ke samping, malah ditariknya lagi hingga mulutku langsung terjatuh di bibir kemaluannya. Aku pun paham, dia ingin menunjukkan ketidaksudiannya, namun di lain pihak, dia sangat menginginkan sensasi itu.

Nih.. aku kasih bonus.. silakan menikmati kataku sambil melanjutkan jilatanku.

Sementara tanganku yang kiri membelai payudaranya bergiliran secara adil. Kiri dan kanan. Sementara tangan kananku kuletakkan di bawah pantatnya. Pantat seksi itu kuremas sesekali.

Oghhh sshhh

Putri menggelinjang menahan nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat dia lupa kalau sekarang dia dalam keadaan terjajah. Sshhh terrusshh

Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. Secara mantap, lendir bening itu mengalir membasahi liang kemaluannya yang semerbak.

Donnhhh Donhhh Dia berteriak di sela orgasmenya yang kuhadiahkan secara cumacuma.

Aduh.. Putt.. yang benar aja dong ringisku karena saat orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.

Maaf maaf Donhh

Aku berhenti sesaat untuk memberinya waktu istirahat. Aku berdiri di samping ranjang. Dia terkulai lemas. Pahanya dibiarkan terbuka. Kemaluan genit itu sudah mengundang batang kemaluanku untuk beraksi. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sejenak. Dia sudah tidak melakukan perlawanan apaapa, pasrah.

Don aku tahu kamu sebenarnya baik, jangan sakiti aku yah aku mau menemani kamu di sini, asal kamu tidak melukai aku pintanya sambil mengubah posisi telentangnya menjadi duduk melipat lututnya ke bawah pantat. Liang kemaluannya agak tersembunyi sekarang.

Kamu masih perawan nggak? tanyaku ketus.

Iyah.. masih

Nah.. sayang sekali, kalau mulai besok kamu sudah menyandang gelar tidak perawan lagi

Ah dia tercekat.

Don semua uang tadi boleh kamu ambil.. tapi mohon jangan yang kamu sebut barusan empat hari lagi aku menikah Don kumohon Don

Ah daripada cowok lain yang merasakan nikmatnya darah segar kamu, mending aku curi sekarang kataku cepat sambil mendekatinya lagi.

Don jangan kumohon

Diam!

Ingat pisau ini sewaktuwaktu bisa mengeluarkan isi perutmu ancamku.

Putri terkejut sekali, karena menyangka aku sudah berbaik hati. Padahal aku juga tidak sungguhsungguh marah padanya. Mungkin karena aku yang sudah terbiasa berteriakteriak membuatnya ketakutan.

Sekarang giliranmu, kukeluarkan batang kemaluanku yang sudah agak terkulai.

Kupikir aku nggak perlu menjelaskan lagi cara membangunkan preman yang satu ini kataku sambil mengarahkan kepalanya berhadapan dengan batang kemalauanku yang lumayan besar. Sejenak dipandanginya diriku. Tanpa berkata apaapa dia memegang batang kemaluanku dan mengocoknya perlahan. Dikocoknya terus sampai perlahan, si batang andalanku naik.

Cuma itu? tanyaku lagi.

Dibuka mulutnya dengan raguragu, kebetulan sekali adegan di TV channel juga sedang memperagakan hal yang sama. Aku sebenarnya ingin tertawa. Tapi kutahan, karena gengsi kalau dia tahu. Dikulumnya batang kemaluanku. Aku berdiri di atas ranjang. Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur.

Ahhh aku mengerang merasa nikmat sekali.

Kulihat matanya sesekali melirik TV. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Tapi dia tidak berani menatap wajahku.

Auhhgghh

Jangan dilepas seruku tertahan.

Aku jongkok dengan mengarahkan kepala ke sela pahanya. Aku telentang di bawah. Posisi kami sekarang 69. Sewaktu berputar tadi dia menggigit kemaluanku agar tidak lepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir kemaluan tepat di atas wajah, kujilati dengan mantap. Kali ini gerakan lidahku liar mengitari permukaan kemaluannya. Sesekali kusedot bukit kecil itu sambil memasukkan hidungku yang kebetulan mancung ke lubang senggamanya.

Oghhh Ahhh Kami berseru bersahutan. Kubalikkan tubuhnya. Sekarang dia ada di bawah, namun tetap 69. Kali ini aku lebih leluasa menjilati kemaluannya.

Augghhh Donhh enakkhh terusshh pintanya.

Lalu kembali menyantap batang kemaluanku dengan garang. Sesekali aku merasakan gigitan kecil di sekitar kepala kemaluan. Pintar juga dia, pikirku dalam hati.

Lidahku kujulurkan masuk ke lubang sempit itu dan menari di dalamnya. Pantatku kugoyang naikturun agar sensasi batang kemaluan yang berada di kulumannya bertambah asyik. Sambil menjilat liang kemaluan itu, jarijariku mempermainkan bibir kemaluannya.

Ougghh Don enakkhh.. Donnhh.. ahhhh Donnhh serunya dibarengi aliran hangat yang langsung membanjiri lembah merah muda itu.

Sekarang waktunya Putt.

Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Dia masih telentang. Kugesek lagi kepala kemaluanku yang sudah mengeras sempurna beradu dengan klitorisnya yang menegang. Dia setengah duduk dengan menahan tubuhnya pakai siku tangan, dan ikut menyaksikan beradunya batang kemaluanku dengan klitorisnya yang sudah menjadi genit. Batang kemaluanku itu kuarahkan ke liang kemaluannya.

Jangann kumohon Donh jangan.. serunya tertatih sambil mencengkeram batang kemaluanku.

Aku bersedia memuaskan nafsumu, dengan cara apa saja, asal jangan mengorbankan pusakaku.

Oh ya? Kalau dari anus mau nggak? tantangku.

Tapi sebenarnya aku tidak lagi perduli karena kemaluanku sudah minta dihantamkan melesak lubang kemaluannya.

Yah.. terserah kamu Don..

Nggak.. mau aku cuma mau yang ini, ini lebih enak.. teriakku sambil menunjuk liang kemaluannya.

Nih.. pegang.. masukin. Dengan ragu dipegangnya batang kemaluanku.

Don apa tidak ada cara lain?

Cara lain? Adaada saja kamu Hei kamu jangan bertingkah lagi ya jangan sampai kesabaranku hilang. Kamu beri satu milyar pun sekarang aku nggak bakalan mau melepaskan punya kamu itu sekarang. Aku sudah nggak tahan paham paham? paham..? bentakku dengan nada suara lebih meninggi. Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya.

Donn sakitt.. jangann rintihnya ketika pisau tadi melukai dada putihnya. Aku terkesiap. Namun tak peduli.

Ayo.. dimasukin kali ini pisau kutekan lagi.

Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah.

Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku. Diarahkannya ke liang kemaluannya.

Sulit sakitt.. Don.. ampunn.. Don

Pegang ini, kataku tidak sadar karena memberikan pisau itu ke tangannya. Dia juga tidak menyadari kalau sedang memegang pisau. Lucu sekali. Aku hanya bisa tersenyum kalau mengingat masa itu. Aku menunduk dan menjilati kemaluannya. Dia melihatku menjilati barangnya. Sesekali kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti aku merasa sudah memiliki mata sipit yang menggemaskan itu. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Kuremas juga susunya yang segar merekah.

Augghhh Ahhh jilatanku kupercepat. Cairannya mengalir lagi walau tidak sebanyak yang tadi. Aku kembali duduk menghadap selangkangannya. Tibatiba aku sadar kalau sebilah pisau ada di tangannya. Segera kuambil dan kulempar ke lantai. Dia juga baru sadar setelah aku mengambil pisau itu. Namun sepertinya dia memang sudah takluk.

Putt.. ludahin ke bawah.. yang banyak kataku sambil menunjuk kemaluannya. Kami samasama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang kemaluanku, juga ke kemaluannya. Sesekali dia juga ikut mengusap batang kemaluanku dengan air ludah yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Aku memandanginya dengan sayang. Dia juga seolah mengerti arti tatapanku itu. Aku segera mengecup bibirnya. Dia membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan perutnya.

Ayo dicoba lagi..

Kali ini dipegangnya kepala kemaluanku. Ah Shhh

Dan.., Oogghhh aaahhh Shh

Kepala kemaluanku masuk perlahan. Sempit sekali lubang itu. Kusodok lagi perlahan. Dia hanya bisa menggigit bibir dan mencengkeram tanganku. Sesekali nafasnya kelihatan sesak. Namun ada juga desah liar terdengar lirih.

Donnhh aku benci.. kaaamu

Kusodok terus, sampai akhirnya semua batang kemaluanku terbenam di liang kegadisannya. Aku tahu itu sakit. Namun mau bilang apa, nafsuku sudah di ujung tanduk.

Brengsek Donhh.. baajingann.. kamu.. shhh oghh,

Aku tak peduli lagi umpatannya. Yang kurasakan hanya nikmat persenggamaan yang benarbenar beda. Shhh.. shhh Donhh Donhh

Kupeluk dia eraterat. Goyanganku makin liar. Aku hanya bisa mendengar dia mengumpat. Sesekali kupandangi wajahnya di sela nafasku yang ngosngosan. Beragam ekspresi ada di sana. Ada kesakitan, ada dendam, tapi ada juga makna sayang, dan gairah yang hangat. Kulihat titiktitik darah mulai mendesak lubang sempit yang tercipta antara batang kemaluan dan liang kegadisannya. Seketika tagisnya meledak. Donhh bajingann.. kamuu jahatt.. kamu Don.. ahhh.. uhh dia memukul dadaku keras sekali.

Tangisnya makin menjadi. Aku iba juga. Kutarik kemaluanku dari liang kemaluannya. Darah segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Kemaluanku kukocok sekuat tenaga ketika spermaku muncrat. Ahhh ahh Air maniku memancar keras membasahi dada dan sebagian wajahnya. Dia menangis sesenggukan.

Nikmatnya memek perawan kamu Putt kataku tersenyum senang.

Aku langsung menjilati darah segar yang sudah membasahi pahanya. Segera kugendong dia menuju kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan dia. Kuambil kertas toilet dan membasuhnya dengan air. Kuusap darah yang ada di sekitar kemaluannya dengan lembut. Darah di dadanya yang sudah mengering juga kulap dengan hatihati.

Kamu puas sekarang bukan begitu Don? ejeknya di sela tangisnya.

Aku terdiam. Aku merasa menyesal. Tapi mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Kujilati lagi kemaluannya dengan lembut. Aku tahu, yang ini pasti tidak bisa ditolaknya. Benar, dia mulai bergetar. Dipegangnya tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, malah jemariku dituntunnya ke sepasang dada montok miliknya. Ahhh shhh sekalian ajaa.. Don.. hamili.. aku.. biar kamu.. lebih puass katanya sambil mengangis lagi.

Aku sungguh tak mengerti. Terus terang di sana aku seperti orang bodoh. Tapi dengan santai kujilati terus kemaluannya. Diraihnya batang kemaluanku dan dikocokkocoknya perlahan. Kemaluanku sudah terkulai. Lama dia mencengkeram kemaluanku sampai akhirnya bangkit. Nafsuku kembali membara. Kugendong lagi dia, dan jatuh bersama di ranjang empuk. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan menjilati rongga mulutnya. Entah berapa kali kami saling bertukaran air liur. Bagiku, air ludahnya nikmat sekali melebihi minuman ringan apapun. Ketika aku berada di bawah, aku juga menelan semua liurnya tatkala dia meludahi mulutku. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Sepanjang dia merasa bebas, aku melayaninya. Hitunghitung balas budi. Hehehe

Aku bergerak ke bawah, menjilati tiap inci sel kulitnya. Lehernya bahkan kuberi tanda cupangan banyak sekali, walau aku tahu empat hari lagi dia akan menikah. Peduli setan.

Ahh.. Don hhhsshh.. yanghh.. itu.. nikhhmatt, serunya tertahan ketika putingnya kusedot dan kujilati dengan bernafsu. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang kemaluannya yang masih basah. Aku terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal. Sesampainya di sela paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang kemaluan yang kumakan tadi. Kali ini bentuknya sudah berbeda. Lubangnya agak menganga seperti luka lecet, namun tidak berdarah. Segera kujilati lagi untuk kesekian kalinya. Donn.. enakhh.. nikmathh

Jari telunjukku kumasukkan lembut ke lubang itu sambil menjilati kemaluannya sesekali. Aduhhh duh enaknyaa Don.. jangan berhenti, serunya sambil menggelinjang hebat. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku. Kutindih dia dan kuarahkan batang kemaluanku. Uhhh ssshh, serunya sesak ketika batang kemaluanku kuhantamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja aku semakin beringas. Siapa tahan.

Donhhh bajiingann! untuk kesekian kalinya dia mengumpatku.

Entah apa maksudnya. Kali ini dia sangat menikmati permainan (setidaknya secara fisik, entahlah kalau perasaannya). Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat.

Putt punyaahh.. kamuu assiikkh.. ahh, seruku ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali menekan batang kemaluanku. Kubalik dia, sehingga sekarang posisinya di atas.

Don.. aku.. akan.. bunuh kamuu.. suatu.. saat..

Silakan.. saajahh

Kami berdua berbicara tak karuan.

Oughhh aihhh.. sshh, teriaknya menggelinjang sambil mencabuti bulubulu dadaku. Aku merasa kesakitan. Tapi biarlah. Dia sepertinya sangat menyukai.

Donh kamu kamu dia tidak melanjutkan katakatanya.

Tibatiba.., Donhhh Donhhh bajingan ah serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya dengan cepat dan menarinari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia kembali orgasme. Tapi goyangannya tidak surut. Kucabut batang kemaluanku dan menyuruhnya membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Kuarahkan batang kemaluanku dari belakang dan, Oughhh oughhh oughhh oughhh tiap sodokanku ditanggapinya dengan seruan liar. Kugenjot terus sambil meremasi kedua susunya yang ikut bergoyang. Lama kami pada posisi itu, tibatiba aku didorongnya dan dia berdiri di hadapanku. Aku ditamparnya keras dan memelukku erat. Ditariknya aku ke ranjang dan memegang kemaluanku. Ditindihnya aku, dia sendiri yang menghunjamkan kemaluanku ke liang kegadisannya.

Rasakan nihhh bajingan shhhh, teriaknya sambil menarinari di atasku. Aku tahu dia akan orgasme lagi.

Aduh..putt.. pekikku tertahan ketika sekarang dia malah menggigit punggungku.

Don Don dia berseru kencang dan memeluk erat kepalaku di dadanya. Kupeluk juga dia dan mengangkatnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini aku bisa menyodoknya dengan sangat keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa sekuat tenaga.

Putt ahshhh

Donhhh

Aku mengeluarkan sperma di dalam kemaluannya. Dia memelukku erat sekali. Kami berdua ngosngosan. Kuangkat dia ke ranjang. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang melemah dengan pelan. Kutarik sprei itu karena sudah berisi noda darah dan bercak cairan yang beragam. Kami tergeletak berdampingan, tanpa pakaian.

Don kamu berhutang padaku, suatu saat aku pasti menagihnya.

Hutang apa? tanyaku.

Dia tidak menjawab. Dengan perlahan dia memejamkan mata dan tertidur. Kupandangi wajahnya yang cantik. Tampak lelah. Hmm beruntung sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lurus indah dengan lembut. Kuciumi keningnya dan kupeluk dia. Aku membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama.

Besoknya kami bangun bersamaan, masih berpelukan. Aku sadar, dia tidak punya pakaian lagi. Segera aku keluar dan pergi ke toko terdekat. Kubeli Tshirt dan celana pendek. Ketika kembali ke kamar, dia membisu dan tak mau menjawab pertanyaanku. Didiamkan begitu aku tak ambil pusing. Kupakaikan Tshirt dan celana pendek ke tubuhnya. Dia masih tetap membisu.

Ayo pulang ajakku. Dia melangkah lunglai. Kugandeng dia ke mobil, kududukkan di jok depan. Setelah isi kamar sudah kurapikan, aku langsung menyetir mobil. Sepanjang jalan dia hanya diam membisu.

Putt aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, satu hal yang aku minta darimu jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat. Bencilah kepadaku karena aku bukanlah calon suamimu, kataku agak kesal dengan sedikit berdiplomasi. Dia memandangku dengan gundah. Namun tetap membisu. Sampai di daerah rumahnya pun dia tetap diam.

Oke.. Puttt aku tak tahu apa yang kamu inginkan. Jika ada yang ingin kamu utarakan, lakukanlah sekarang sebelum aku pergi.

Dia hanya diam membisu. Dipandanginya aku agak lama. Karena tidak ada jawaban, kudekati dia dan kucium tangannya. Dia tidak bereaksi.

Bye.. Putttt.. Aku segera beranjak pergi.

Empat hari kemudian aku memang secara diamdiam mendatangi daerah rumahnya. Benar, dari informasi yang kudapat dia memang sedang melangsungkan resepsi pernikahan di sebuah Resto mewah di pusat kota. Tapi aku tidak pergi melihatnya. Siapa tahu itu hanya akan jadi luka baru baginya. Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu kafe di Surabaya. Saat groupku manggung, aku melihatnya duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya).

Lagu ini kupersembahkan buat seorang gadis paling indah yang pernah mewarnai perjalanan hidupku, aku pun segera menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam. Dia menikmatinya dengan tatapan syahdu ke arahku. Tentu saja tak seorang pun pernah tahu, bahwa sesuatu pernah terjadi di antara kami.

Begitulah kisahku bertemu dengan Putri memang gadis yang aku puja puja akan kecantikannya,.

Related Post