Cerita Panas

Selingan Ranjangku

Seiring dengan bertambahnya semester, aku semakin banyak mengenal teman dan tentunya wanita yg berpotensi menjadi kekasihku. setelah menimang-nimang mana kiranya yg sesuai dengan kriteriaku, akhirnya pilihan jatuh kepada wanita seuasiaku yg berada di fakultas sosial politik bernama Bella yg kelak menjadi istriku. kurang lebih hampir 2 semester aku mendekatinya, akhirnya aku bisa menjadikan dia sebagai pacarku. seorang wanita yg berkerudung cantik dan anggun ini memang sosok wanita impianku.

Aku menerangkan mengenai prinsip yg aku pegang yg sebelumnya telah hancur, namun aku tak menceritakan mengenai kehancuran prinsip yg pernah aku alami, aku tak ingin Bella memandang aku sebagai pria yg tak benar. namun yg ada sekarang aku telah kembali menjadi seorang pria yg seperti aku inginkan pada saat dulu.
“iya sayang, aku juga setuju bahwa kehormatan wanita itu perlu dijaga”, ujarnya saat kami ngobrolin mengenai pandanganku terhadap krisis yg dihadapi oleh negeri ini, karena sudah banyak orang menganggap perawan tidak penting.
“iya yang, aku juga ingin kamu bisa menjaganya hingga kelak kita menikah”, balasku dengan yakin dan tegas.
“iya yang, aku jamin, kamu akan mendapatkan perawanku saat kelak malam pertama setelah kita menikah”, ujarnya yg anggun dan cantik.
aku merasa sangat lega mendengar jawaban dari pacarku mengenai ini. obrolan yg sangat sensitif ditemani dengan nasi goreng di masing-masing piring, tempat makan yg sangat unik dimana lokasi makan berada tepat diatas rel kereta api jika saat malam sudah tidak aktif. dan posisi makan antara meja lesehan satu dengan satunya sedikit berjauhan maka obrolan seperti ini bisa santai dan tidak didengar oleh kelompok meja yg lain.

Dengan pacar yg sangat sempurna seperti Bella, aku rasa aku akan harus dan wajib menjaga komunikasi dan pola yg baik untuk meminimalisir perkelahian karena perbedaan pendapat. selama ini aku amati Bella juga sangat setia dan menjaga perilakunya, sehingga aku dan dia bisa fokus pada kuliah masing-masing. kami sudah mengalokasikan waktu dalam seminggu untuk bertemu dan membicarakan mengenai hubungan ini dan masa depan hubungan ini. aku sangat bersyukur telah diberi kesempatan kembali untuk menjadi seseorang yg sesuai dengan harapanku sebelum Owie menggubahnya. intinya adalah kita harus bisa mengontrol diri kita sendiri dan bisa mengatur diri ke arah mana kita akan menjadi seorang manusia.

*

Baca Juga: Merasa Bersalah

Suatu ketika di kampus bersama Dika, Alex dan Edo. dibawah pohon rindang kami duduk diatas rumput, dengan beberapa gelas es teh di sebelah badan kita, yg tentunya sudah kami bayar sebelumnya. tawa dan canda memenuhi ruang kosong di atas rumput ini.
“aku cabut duluan ya”, ujar Edo pada kami.
“laah masih pagi ini, mau kemana njir?”, balas Dika.
“mau pijet aku”, balasnya lagi.
“hahaha njir pijet apaan bangke?”, tanyaku penuh tanya.
“hhahha bangke, jangan bilang-bilang, pijet keperkasaan, biar seperti beton”, ujarnya sambil berbisik pada kami.
“ahahha serius, seru nih haha”, ujarku.
“kita bisa ikuta gak?”, tanya Alex.
“ayook, siapa tau perlu hahaha”, balas Edo.
“yauda aku ikut, ikut yuk”, ajak Alex pada kami, dan akhirnya kamipun juga turut ikut semua karena atas dasar penasaran, tapi mungkin aku hanya melihat lihat dulu.

Menuju lokasi pemijatan, jaraknya cukup lumayan dari kampus kami, dan beberapa kali masuk areal persawahan dan pedesaan, dengan cuaca yg terik membuat tenggorokan terasa panas, namun semangat dan penasaran dapat menghilangkan rasa haus yg menyerang kami. akhirnya kami tiba di sebuah rumah kecil, Edo pun langsung berjalan di depan sendiri dan mengetuk pintu rumah itu. keluarlah seorang bapak-bapak yg kutafsir berusia 50an dengan rambut yg sudah memutih seperti dia sudah melewati banyak hal dalam hidupnya.
“selamat siang pak, ini Edo, saya bawa teman-teman”, ujar Edo dengan sopan.
“weeh ayo masuk masuk”, ajak bapak ini yg belum aku ketahui namanya, kami semuapun duduk diruang tamu dengan kursi rotan ini, “adik-adik ini juga mau pijet?”, tanya bapaknya.
“ehmm pijetnya gimana pak?”, tanya Dika yg penasaran.
“ya pijet vitalitas biar lebih gagah dan gede”, balasnya dengan singkat.
“nambah gede nya juga lumayan bisa sampai 3-5cm”, ujar Edo dengan santai.
“wih menarik nih”, balasnya Dika.
aku berada di persimpangan jalan dan bingung, namun akhirnya aku turut ikut juga. lantas bapak ini aku ketahui bernama pak Rono, diawali dengan Edo yg masuk ke kamar dengan menggunakan sarung, kamipun turut melihatnya dar pinggir pintu. awalnya pak Rono memijat bagian telapak kaki dengan waktu yg cukup lama dan Edo terlihat meringis kesakitan, selanjutnya pak Rono memasukkan tangannya kedalam sarung Edo dan entah memijat atau menarik bagian selangkangnnya, diiringi dengan teriakan karena sedikit ngilu rasanya.

Akhirnya kami berempat semua bergiliran untuk dilakukan yg sama seperti pada Edo, kami semua menahan sakit dengan harapan akan mendapatkan hasil yg kami inginkan. setelah akhirnya kami semua selesai, kami kembali duduk pada kursi rotan itu.
“wes nanti bakal perkasa dan gede seperti hidung gajah haaha”, ujar pak Rono.
“hahha, oke pak”, balas Alex.
“pantangannya adalah, selama 7 hari gak boleh onani, gak boleh tegang, harus lemes terus, untuk dapat hasil yg maksimal, nanti setelah itu kalau belum puas, boleh kesini lagi”, ujar pak Rono dengan serius.
“terus maaf pak, lha ini berapa biayanya, tadi malah belum bahas biaya?”, ujarku dengan penasaran.
“sukarela aja, monggo silahkan berapa”, ujar pak Rono dengan santai.
lantas aku minta ijin keluar dengan yg lain berdiskusi mengenai ini, akhirnya kami sepakat untuk memberinya yg cukup banyak bagi seorang mahasiswa. kami melipat uang itu dan bersalaman tempel sekalian berpamitan. selama perjalanan rasanya masih ngilu di telapakan dan di bagian selangkangan. selain itu aku berusaha menjaga untuk tidak bepikiran jorok yg berakibat kontol menjadi tegang.

*

Setelah hari ke 8, dan aku mendengar cerita dari temanku bahwa pusaka mereka tambah panjang dan gede sebesar 3-4cm. selain itu bisa tegang seperti beton sebuah gedung pencakar langit. lantas aku melihat milikku sendiri, saat tidak tegang memang sama seperti ukuran pada saat dulu. namun entah jika saat ngaceng.

 

Aku lantas membuka situs porno favoritku, melepas celanaku, dan fokus untuk ngaceng dan rasanya sangat bertenaga sekali dan benar saja saat sudah ngaceng maksimal bertambah panjang dan nampaknya seperti gede juga, dengan posisi sangat ngaceng lantas aku mengambil penggaris di meja belajarku dan mengukurnya
“wooow 18cm gila gilaaaaa”, ujarku dengan girang disertai dengan otot-otot yg menonjol dan perkasa. aku genggam dan rasanya seperti sangat tebal sekali, aku puas dengan perubahan ini, dan tentunya akan bertambahnya rasa percaya diriku.

Perubahan yg ada di dalam diriku tentunya tidak aku pamerkan ke orang lain, apalagi menunjukkannya, Bella pun juga tidak mengetahui. aku menjaga hal-hal yg berbau seksual dari dirinya. sebenarnya aku juga penasaran apa yg ada di dalam kerudungnya, namun dia benar-benar menjaga dirinya dengan sangat baik, sehingga tidaklah pantas orang sebaik dan setulus Bella dalam mencintaiku disalahgunakan. biarkan pusaka ini dilihat oleh Bella jika sudah saatnya, yaitu setelah kami menikah.

Related Post